EVOLUSI SYARIAH: Mengenal Lebih dekat dengan Abdullah Ahmed an-Na’im

Penulis               : Mochlasin Sofyan

Penenerbit        : STAIN Salatiga Press dan JP Book

Tahun Terbit   : 2008

Ringkasan:

Melalui konsep naskhnya, an-Na’im pertama-tama membagi teks al-Qur’an dalam dua corak pesan yang secara kualitatif berbeda. Pertama, ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad di Makkah, ayat-ayat tersebut mengandung kandungan makna yang abadi karena terkandung nilai-nilai toleransi, demokrasi dan kesetaraan gender. Kedua, ayat-ayat madaniyah mengandung gagasan dan ajaran yang mempromosikan konfrontasi, ketidaksetaraan dan pembatasan-pembatasan serius terhadap kebebasan individu serta diskriminasi terhadap perempuan. Ayat-ayat makkiyah sebagai ayat utama  ditunda pemberlukannya dan diganti ayat-ayat madaniyah, karena situasi yang tidak tepat. Arti naskh  demikian yang akan dijadikan basis metodologi pembaharuannya dalam pengembanan hukum Islam.

Dalam metodologi pembaharuannya, pemilahan a terhadap teks-teks makkiyah dan madaniyah sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena sistem kronologi tersebut sebenarnya hasil kreasi sistem penanggalan ulama tafsir terdahulu terutama merujuk pada Ibn Abbas. Meskipun demikian, dapat dikatakan an-Na’im sebenarnya  mengadopsi istilah an sich, bukan mengadopsi definisinya. Oleh karenanya, pada posisi tertentu pembaharuannya terkesan berbasis ortodok karena masih akrab dengan istilah-istilah klasik. Perbedaan yang mencolok tentang penggunaan konsep makkiyah-madaniyah, menurut an-Na’im bukan hanya karena perbedaan tempat turunnya, akan tetapi karena pertimbangan audiennya (khitāb) yang menjadi sasaran pesan Allah.

Perkembangan yang cukup akseleratif dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta sosial-politik, hampir-hampir tidak tertampung dalam perkembangan hukum Islam dewasa ini (fikih). Dari beberapa kelemahan dalam formulasi hukum Islam saat ini, semakin membuat hukum Islam dalam situasi crisis of relevance. Hal tersebut menurut an-Na’im diakibatkan tidak tepatnya dalam memformulasikan metodologi pembaharuan. Setelah wafatnya Rasulullah dan empat mazhab Sunni. Hukum Islam yang berkembang sampai saat ini adalah didasarkan pada teks-teks madaniyah, hal itulah menurut an-Na’im yang menyebabkan pesan al-Qur’an yang otentik menjadi hilang.

Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan mengikuti cara penafsiran gurunya, Taha, yaitu menggunakan cara penafsiran mistis sebagaimana disebut oleh Jhon Voll Pesan al-Qur’an yang selama ini dipahami parsial dalam penafsiran hukum dapat ditangkap secara utuh melalui metode naskhnya. Dengan meminjam “teori penafsiran hukum secara sistematis” sebagaimana dikenal dalam hukum positif, sebenarnya an-Na’im juga terjebak dalam pemaknaan naskh ulama klasik. Karakteristik yang terkandung dalam teks-teks makkiyah, menurut an-Na’im sangat relevan dan kontekstual untuk menjadi basis formulasi hukum bagi umat Islam di dunia modern ini. Meskipun secara spesifik, an-Na’im belum melakukan identifikasi teks-teks makkiyah secara keseluruhan mana yang dapat dijadikan basis formulasi hukum dan bagaimana operasionalnya, terutama bagi pengembangan hukum publik Islam yang selalu dicita-citakan.

 

Leave a Reply